Teori Feminisme Eksistensialis
Teori yang mengungkapkan tentang teori eksistensialis adalah Jean Paul Sartre (1905-1980) dalam Being and Nothingness yang dalam Tong (1999:174) dijelaskan sebagai berikut : Being (ada) terdiri dari :
1. Being in it self : ada pada dirinya, keberadaan yang tidak berkesadaran, ada begitu saja, keberadaan yang utuh.
2. Being for it self : ada untuk dirinya, keberadaan yang berkesadaran, kesadaran yang bercelah hingga ada kritisisme yang bisa meniadakan. Ada pada manusia yang mempunyai akal dan bisa melakukannya, karena kritisisme itu maka manusia dihadapi pilihan akibat dari kutukan kebebasannya.
3. Being For other : ada untuk orang lain, keberadaan bersama orang lain, hubungan subjek-subjek yang penuh dengan konflik.
Feminis yang merupakan murid teman dekat dan juga fathner kerja Sartre adalah Simone Deaufoir dengan buku terkenalnya The Second Sex. Simone Deaufoir menjelaskan keberadaan perempuan adalah sebagai objek dalam hubungan dengan subjek. Didunia ini tidak ada perempuan yang bebas mengekspresikan dirinyatanpa tergantung pada subjek yaitu laki-laki. Perempuan digambarkan sebagai manusia yang tidak memiliki kesadara, yang tergantung pada manusia lain (laki-laki), tidak memiliki kebebasan sehingga disebut the other.
Feminisme eksistensi menekankan agar perempuan itu ada dalam hubungannya dengan manusia lain (laki-laki). Menjadi subjek bukan objek. Keberadaan perempuan ini dapat dicapai dengan trasedensi (http://www.geocities.com/kawan2000ui/feminism1.htm, 3 oktober 2003) ) sebagai berikut :
1. Dengan bekerja
Meskipun berarti berperan ganda, tetapi perempuan akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki yang bekerja disektor publik. Dan kesempatan ini menjadi nilai tambah jika perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga.
2. Menjadi Intelektual
Aktifis intelektual akan membawa perubahan pada perempuan. Perempuan akan menjadi subjek bukan objek.
3. Dengan mentransformasikan nilai social dalam masyarakat
Self-Other di dalam hubungan manusia secara umum dan hubungan laki-laki-perempuan secara khusus. Pendapat Santre bahwa salah satu kunci membebaskan perempuan dari ketergantungan pada laki-laki adalah dengan kekuatan ekonomi.
4. Menolak untuk menginternalisasikan status other-nya dan mengidentifikasikan diri sendiri melalui pandangan kelompok dominan dalam masyarakat.
Karena dengan menerima status other maka perempuan menerima sebagai objek.
Posted at 12:13 am by deniborin
Permalink
Teori Feminisme Multikultur
Dalam teori feminisme multikultural ini akan terlihat adanya perbedaan yang muncul ditempat yang berbeda dengan budaya, ras, etnis, dan kebiasaan yang berbeda di suatu tempat (cirri khas) bahkan tidak menutup kemungkinan suatu permasalahan perempuan disatu tempat tidak menjadi permasalahan ditempat lain.
Feminisme multicultural mempunyai landasan yang sama dengan teori post modern dimana persoalan perempuan dikarenakan perbedaan suatu budaya, ras, dan etnis tertentu. Hal ini disesuaikan dengan dengan keadaan Indonesia yang terdiri dari beragam budaya.
Feminisme multicultural menekankan adanya perbedaan dalam menangani masalah perempuan, munculnya teori multukultural ini bisa dari adanya kesalahan dari melihat persoalan perempuan, yang mengatasinya dengan memberi persamaan dalam solusinya. Contohnya: bagaimana seorang perempuan suku Jawa yang masih tradisional merasa berdosa jika tidak dapat melayani suaminya dengan baik padahal menurut perempuan feminis dari suku lain misalnya merasa bahwa perasaan berdosa itu salah bahkan salah satu bentuk penindasan laki-laki terhadap perempuan. Menempatkan perempuan atau istri pada posisi subkoordinasi bagi laki-laki atau suami yang menjadi streotif-streotif perempuan kebanyakan di Indonesia.
Kelebihan feminisme multicultural adalah memahami ketertindasan perempuan yang memiliki cara yang berbeda-beda. Adanya keterkaitan dari perbedaan, pluralitas, kultur, ras dan etnis. Dan merangkum semua hal tersebut untuk menganalisa masalah perempuan. Kelemahanya adalah mungkin suatu hal yang biasa untuk beberapa kasus ketertindasan perempuan karena perbedaan nilai dan budaya yang dianut kelompok masyarakat tadi. (2000, ed.XIII/maret, April, Mei Jurnal perempuan)
Posted at 12:03 am by deniborin
Permalink